Seminar HUT PGRI ke-77, Ning Ita Ajak Guru Bersinergi Tekan Angka Kenakalan Remaja

Mojokertopos.com – Menghadapi beragam persoalan kenakalan remaja yang semakin marak, Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari mengajak segenap guru untuk bersinergi dengan pemerintah dan stakeholder lainnya. Mengingat, masing-masing pihak memiliki peran dalam menekan angka kasus kenakalan remaja yang ada.

 

“Ini menjadi tanggung jawab kita bersama. Kita, kulo dan panjenengan sedoyo. Tidak bisa pemerintah bergerak sendiri, tidak bisa kepolisian, BNN bergerak sendiri. Guru diberi tanggung jawab sendiri juga pasti tidak mampu. Peran keluarga yang begitu strategis juga tidak bisa diabaikan,” tegas wali kota dalam Seminar HUT Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) ke-77, Kamis, (24/11).

 

Wali Kota menyebutkan sejumlah persoalan kenakalan remaja yang menjadi perhatian Pemerintah Kota Mojokerto saat ini diantaranya mengenai peredaran narkoba, perilaku seks menyimpang dan porstitusi, serta degradasi karakter dan moral remaja. Berbagai jenis persoalan tersebut tentu saja membutuhkan strategi pemecahan masalah yang berbeda.

 

“Saya ingin di forum ini terjadi diskusi, dan hasilnya saya dapat rekomendasai yang bisa ditindaklanjuti. Lalu sesuai peran saya, kebijakan apa yang dibutuhkan untuk bisa mendukung skema solusi tersebut. Jadi ada sinergi dengan kita semuanya,” tutur Wali kota dalam agenda yang berlangsung di aula lantai 4, Mall Pelayanan Publik (MPP) Gajah Mada.

 

Sebab itu, pada forum ini juga menghadirkan narasumber akademisi dan praktisi dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Prof. Dr. Suyatno, M. Pd. Sosok guru besar tersebut memaparkan topik seputar Merdeka Belajar dan Inovasi, Tren Pendidikan Kedepan.

 

Pihaknya mengawali sesi diskusi dengan menguraikan sebab-musabab bagaimana seorang siswa dapat terjerumus dalam perilaku kenakalan remaja. Lelaki yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Gerakan Pramuka Indonesia ini menyebut jika ketiadaan rasa aman dan nyaman di sekolah menjadi salah satu sebab tersebut.

 

“Sekolah perlu menciptakan rasa aman dan nyaman bagi anak. Sehingga dia mencari di tempat lain. Karena anak merasa tidak diterima di sekolah, dia cari komunitas di luar, yang bisa jadi justru berpotensi menjerumuskan anak ke perilaku menyimpang,” terangnya.

 

Berikutnya, Profesor Bahasa dan Sastra Indonesia ini menyebutkan, eksistensi siswa harus di sekolah harus diakaui. Tidak bisa dipungkiri, aspek tersebut hingga saat ini masih sering luput dari perhatian para pendidik. Seringkali hanya siswa kategori “cemerlang” yang dilibatkan dalam berbagai kegiatan di sekolah. Demikian pula pada aspek memberi penghargaan.

 

Selain Prof. Dr.Suyatno, M.Pd., sesi diskusi juga menghadirkan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Mojokerto Amin Wachid, serta Ketua PGRI Kota Mojokerto Mulib. Melalui forum sinergis tersebut, diharapkan nantinya dapat tercipta suatu kebijakan yang startegis, untuk mempersiapkan calon generasi bangsa, sehingga dapat terwujud Indonesia Generasi Emas 2045. (Tik)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *