MOJOKERTO | mojokertopos.com — Jalan desa di Karangdiyeng, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, mendadak berubah menjadi panggung budaya pada Sabtu (22/8/2026). Selama lebih dari 10 jam, 19 kelompok dari berbagai RT membawa cerita rakyat, pewayangan, sejarah, tradisi hingga urban legend dalam Karangdiyeng Culture Carnival 2026 untuk memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Karnaval tersebut tidak hanya menghadirkan parade kostum. Masing-masing kelompok membawa tema dan cerita berbeda yang kemudian diterjemahkan melalui kostum, tarian, drama pendek hingga berbagai pertunjukan dengan dukungan sound horeg.
Setiap RT seolah memiliki panggung ceritanya sendiri. Namun, seluruh kreativitas itu dirangkai menjadi satu parade yang bergerak melintasi kawasan Desa Karangdiyeng.
Berdasarkan susunan peserta yang disiapkan panitia, rombongan pertama berasal dari RT 03 RW 04 Dusun Selorejo dengan tema Bali Nusantara. Setelah itu, RT 04 RW 04 Dusun Selorejo tampil membawa tema Ketahanan Pangan Pertanian Lokal.
Rangkaian berikutnya menghadirkan Borneo Kalimantan, Bawang Merah Bawang Putih, Pesona Pulau Dewata hingga Damar Wulan.
Nuansa pewayangan dan legenda kemudian semakin terasa melalui penampilan Pandawa Lima, Reog Ponorogo dan Dayang-Dayang Srikandi.
Tak hanya cerita tradisional, peserta juga mengangkat kisah yang lebih populer di tengah masyarakat. Tema Yuyu Kangkang, Guyonan, Joko Tarub & 7 Bidadari, hingga Party Sepanjang Jalan yang dibawakan Karang Taruna Dusun Selorejo turut menjadi bagian dari parade.
Dari Dusun Mejero, kreativitas warga hadir melalui tema Pesona Dwi Pantara, Lembu Suro, Nyai Ronggeng hingga Tragedi Desa Penari.
Sementara itu, dua kelompok terakhir membawa parade menuju penghujung rangkaian cerita. Ande-Ande Lumut ditampilkan RT 05 RW 01 Dusun Karangdiyeng, sebelum kemudian ditutup Roro Jonggrang dari RT 01 RW 01 Dusun Karangdiyeng.
Keragaman tema tersebut memperlihatkan luasnya ruang kreativitas masyarakat. Cerita yang selama ini hidup melalui dongeng, sejarah, legenda maupun tradisi dikemas ulang menjadi pertunjukan yang lebih atraktif dan dekat dengan masyarakat.
Warga Diberi Ruang Menjadi Pelaku Perayaan
Karangdiyeng Culture Carnival 2026 dibuka oleh Kepala Desa Karangdiyeng Sulaiman Affandi, S.Ti. Kegiatan tersebut turut dihadiri Staf Khusus Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Dr. H. Muhammad Afif Zamroni, Lc., M.E.I., serta Wakil Bupati Mojokerto dr. Muhammad Rizal Octavian yang hadir mewakili Bupati Mojokerto yang berhalangan hadir.
Dalam sambutan pembukaan, Sulaiman menjelaskan bahwa karnaval dirancang agar masyarakat tidak hanya menjadi penonton dalam perayaan kemerdekaan. Setiap wilayah diberikan ruang untuk menunjukkan kreativitasnya.
“Kami ingin peringatan kemerdekaan ini dirasakan bersama oleh seluruh masyarakat. Karena itu, kami memberikan ruang kepada setiap RT untuk menampilkan kreativitasnya. Ada yang mengangkat budaya, cerita rakyat, sejarah, sampai cerita yang berkembang di masyarakat,” ujar Sulaiman.
Menurutnya, keterlibatan 19 kelompok dari berbagai RT menunjukkan bahwa kegiatan di tingkat desa dapat menjadi ruang bersama ketika masyarakat mendapatkan kesempatan untuk berkreasi.
Sulaiman juga menyampaikan apresiasi kepada warga yang telah mempersiapkan penampilan masing-masing sekaligus menjaga semangat kebersamaan selama karnaval berlangsung.
Gus Afif: Potensi Desa Tak Hanya Pembangunan Fisik
Kreativitas masyarakat Karangdiyeng mendapat apresiasi dari Staf Khusus Menteri Desa dan PDT Dr. H. Muhammad Afif Zamroni, Lc., M.E.I.
Menurut Gus Afif, kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa potensi desa tidak semata-mata berada pada pembangunan fisik maupun sektor ekonomi. Kekayaan sosial dan budaya yang tumbuh di tengah masyarakat juga merupakan potensi yang dapat dikembangkan.
“Saya melihat kegiatan seperti ini sangat positif. Masyarakat desa bukan hanya menjadi penonton, tetapi menjadi pelaku. Mereka menggali cerita, budaya dan kreativitasnya sendiri, kemudian ditampilkan bersama-sama,” kata Gus Afif.
Ia menilai keterlibatan masyarakat dalam kegiatan budaya menjadi bagian penting untuk menjaga agar cerita dan tradisi yang berkembang di lingkungan desa tetap memiliki ruang di tengah perubahan zaman.
“Desa memiliki banyak potensi yang kadang tidak terlihat karena kita terlalu fokus pada pembangunan fisik. Padahal budaya, kreativitas masyarakat dan gotong royong juga merupakan kekuatan desa yang harus dirawat,” ujarnya.
Wakil Bupati: Jangan Berhenti sebagai Seremonial
Apresiasi terhadap pelaksanaan Karangdiyeng Culture Carnival juga disampaikan Wakil Bupati Mojokerto dr. Muhammad Rizal Octavian.
Menurut Rizal, kreativitas yang ditampilkan melalui 19 kelompok menjadi gambaran bahwa semangat memperingati kemerdekaan dapat dikemas melalui kegiatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan yang digagas masyarakat seperti ini. Yang menarik, setiap RT memiliki tema dan kreativitas masing-masing, tetapi semuanya tetap menjadi bagian dari satu kegiatan bersama,” kata Rizal.
Ia berharap kegiatan serupa tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan. Lebih jauh, karnaval diharapkan dapat menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan sekaligus mengenalkan kekayaan budaya kepada generasi muda.
“Semoga kegiatan seperti ini terus tumbuh. Anak-anak muda bisa mengenal cerita rakyat, budaya dan sejarah melalui cara yang mereka sukai, sekaligus masyarakat bisa berkumpul dan bergotong royong,” ujarnya.
Berlangsung hingga 00.35 WIB
Karangdiyeng Culture Carnival 2026 berlangsung dalam rentang waktu cukup panjang. Berdasarkan rundown panitia, rangkaian kegiatan dimulai pukul 14.00 WIB dan berakhir pada 00.35 WIB.
Rangkaian tersebut mencakup pemberangkatan peserta, berbagai penampilan hingga kegiatan penutup.
Sebanyak 19 kelompok yang ambil bagian berasal dari sejumlah RT di Dusun Selorejo, Karangdiyeng, Jaringansari dan Mejero. Beberapa penampilan juga melibatkan gabungan RT dalam satu kelompok.
Format tersebut membuat karnaval memiliki karakter lebih dari sekadar parade kostum. Warga tidak hanya berjalan membawa atribut, tetapi memilih cerita, mengolahnya menjadi pertunjukan, kemudian menyajikannya kepada masyarakat yang menyaksikan sepanjang rangkaian acara.
Dari Bali Nusantara hingga Roro Jonggrang, dari Ketahanan Pangan Pertanian Lokal hingga Tragedi Desa Penari, Karangdiyeng Culture Carnival 2026 memperlihatkan bagaimana ruang publik desa dapat menjadi ruang ekspresi ketika masyarakat diberi kesempatan untuk berkreasi.
Jalan desa yang sehari-hari menjadi bagian dari aktivitas warga pun menjelma menjadi ruang bertemunya budaya, legenda, sejarah, kreativitas dan gotong royong.
Pada akhirnya, kekuatan Karangdiyeng Culture Carnival bukan hanya terletak pada kemeriahan pertunjukannya. Di balik beragam kostum dan cerita yang dibawa 19 kelompok, terdapat partisipasi warga yang menjadikan perayaan kemerdekaan sebagai milik bersama. (Tik/Adv)














