Mojokerto, mojokertopos.com – Perjalanan hidup tak selalu berjalan lurus. Bagi Hadi Purwanto, S.T., S.H., M.H., setiap keterpurukan justru menjadi pijakan untuk melangkah lebih tinggi. Setelah melalui berbagai fase penuh tantangan, Ia kini resmi menyandang profesi advokat usai diambil sumpahnya oleh Kongres Advokat Indonesia di Pengadilan Tinggi Surabaya, Rabu (8/4/2026).
Prosesi pengambilan sumpah tersebut bukan sekadar formalitas profesi, melainkan penanda babak baru dari perjalanan panjang yang sarat perjuangan. Di balik toga advokat yang kini dikenakannya, tersimpan kisah jatuh bangun, ketekunan, serta keberanian untuk bangkit dari kondisi paling sulit dalam hidupnya.
Sebelum menapaki dunia hukum, Hadi dikenal sebagai pelaku usaha di bidang komputer yang sempat berkembang pesat. Namun, roda kehidupan berputar. Krisis yang datang tak terduga membuat usahanya runtuh, meninggalkan kerugian besar hingga miliaran rupiah. Situasi tersebut menjadi titik nadir yang menguji ketahanan mental dan arah hidupnya.
Alih-alih menyerah, Hadi memilih untuk bangkit. Ia memulai kembali dari bawah, menekuni pekerjaan sebagai tukang layout dan shooting demi menyambung hidup. Dari pekerjaan sederhana itulah, ia perlahan menyusun kembali langkahnya, membangun fondasi baru dengan kesabaran dan kerja keras.
Keterbatasan tak menjadi penghalang. Berbekal sepeda motor sederhana, Hadi menjalani aktivitasnya dengan penuh dedikasi. Dari proses yang tidak instan itu, ia berhasil merintis kembali usaha, bahkan mampu mendirikan media cetak secara mandiri. Upaya tersebut menjadi bukti bahwa konsistensi dan ketekunan mampu mengubah keterpurukan menjadi peluang baru.
Seiring berkembangnya pengalaman dan jejaring, Hadi memperluas kiprahnya dengan mendirikan Lembaga Konsultasi Hukum (LKH) Barracuda. Lembaga ini hadir sebagai ruang pendampingan hukum, khususnya bagi masyarakat kecil yang kerap kesulitan mengakses keadilan.
Tak berhenti di sana, Hadi juga terus meningkatkan kapasitas diri melalui jalur pendidikan. Ia berhasil meraih gelar Magister Hukum sebagai bentuk keseriusannya dalam mendalami dunia advokasi sekaligus memperkuat kompetensi profesionalnya.
Dengan bekal pengalaman hidup yang penuh dinamika, Hadi membawa perspektif berbeda dalam menjalankan profesinya. Ia tidak hanya memahami hukum secara teoritis, tetapi juga merasakan langsung realitas perjuangan masyarakat dari bawah.
“Semoga amanah ini bisa dijalankan dengan baik dan membawa manfaat bagi masyarakat,” ujarnya usai prosesi pengambilan sumpah.
Kini, profesi advokat bukan hanya menjadi pencapaian pribadi bagi Hadi Purwanto, tetapi juga simbol komitmen untuk memperjuangkan keadilan. Dari keterpurukan menuju pengabdian, kisahnya menjadi pengingat bahwa setiap kegagalan selalu menyimpan peluang untuk bangkit selama ada keberanian untuk memulai kembali.(Tik)














