Kota Mojokerto, mojokertopos.com – Pemerintah Kota Mojokerto menggerakkan aksi kerja bakti massal secara serentak di seluruh wilayah kota, mulai dari lingkungan permukiman hingga kantor pemerintahan. Kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen Pemkot Mojokerto dalam mendukung Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto, sekaligus memperkuat budaya gotong royong sebagai fondasi pembangunan lingkungan berkelanjutan.
Berbeda dari kegiatan kebersihan yang bersifat insidental, kerja bakti serentak ini dirancang sebagai gerakan kolektif lintas elemen. Pendekatan pentahelix diterapkan dengan melibatkan masyarakat, pemerintah, TNI-Polri, hingga komunitas lokal agar kesadaran menjaga kebersihan tidak berhenti pada momentum tertentu, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan bersama.
Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari menegaskan, keterlibatan seluruh unsur tersebut menjadi kunci utama keberhasilan gerakan lingkungan. Menurutnya, kebersihan kota tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah, melainkan membutuhkan peran aktif seluruh warga.
“Semua komponen kita libatkan. Masyarakat, pemerintah, TNI-Polri, dan komunitas turun langsung membersihkan lingkungan. Ini bukan kegiatan seremonial, melainkan gerakan bersama yang harus terus dijaga keberlanjutannya,” ujar Wali Kota yang akrab disapa Ning Ita, usai mengikuti kerja bakti di Jalan Empugandring, Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari, Jumat (6/2/2026).
Ning Ita menjelaskan, kerja bakti massal bukanlah program baru di Kota Mojokerto. Kegiatan tersebut telah menjadi agenda rutin sejak periode pertama kepemimpinannya dan terus dilaksanakan secara konsisten hingga saat ini sebagai bagian dari upaya membangun budaya peduli lingkungan.
“Sejak awal menjabat, kami berkomitmen menjaga tradisi gotong royong. Budaya ini harus terus dirawat agar kebersihan Kota Mojokerto benar-benar menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah,” katanya.
Dari sisi sarana dan prasarana, Ning Ita menyebut pengelolaan sampah di Kota Mojokerto sebenarnya sudah sangat memadai. Saat ini, kota dengan luas wilayah sekitar 20 kilometer persegi tersebut memiliki 30 depo sampah, 10 Tempat Penampungan Sementara (TPS), tiga TPS 3R, serta satu Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
“Dengan luas wilayah yang relatif kecil, fasilitas persampahan kita sudah cukup. Tantangan terbesar justru ada pada perilaku dan kedisiplinan masyarakat dalam menjaga kebersihan,” ungkapnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Pemkot Mojokerto terus mendorong perubahan perilaku melalui berbagai inovasi, salah satunya Budaya RT Berseri (Bersih, Sehat, dan Asri). Program yang digagas langsung oleh Ning Ita ini menekankan penguatan nilai gotong royong di tingkat rukun tetangga sebagai garda terdepan kebersihan lingkungan.
“Budaya RT Berseri kita lahirkan untuk mengembalikan masyarakat pada akar budaya bangsa, yaitu gotong royong. Dengan lingkungan yang bersih dan sehat, kualitas hidup warga juga akan meningkat,” jelasnya.
Melalui gerakan yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan, Ning Ita berharap Kota Mojokerto dapat terus berkembang sebagai kota kecil yang bersih, tertib, dan berwawasan lingkungan. Lebih dari itu, langkah tersebut diharapkan menjadi kontribusi nyata daerah dalam mendukung Gerakan Indonesia ASRI di tingkat nasional.(Tik/Adv-kom)












