Mojokerto – Mojokertopos.com : Setelah dikunjungi Walikota Mojokerto dan Bupati Mojokerto dan segenap pimpinan Forum Pimpinan Daerah(Forpimda), Suasana musik pelan mengalun diruang cukup luas di lantai satu Atrium Sunrise Mall Mojokerto, Rabu siang, pada (8/7/ 2026).
Pantauan media ini di lokasi, justru yang membuat pengunjung Mall berhenti bukannya alunan musiknya. Melainkan deretan foto-foto karya jurnalistik dan berbagai lukisan yang menarik perhatian dipersembahkan para Wartawan Media Center Mojokerto
Di tengah hiruk pikuk diskon dan promo yang digelar Sunrase Mall, Media Centre(MC) Mojokerto yang menjadi ruang jurnalis Mojokerto, sejak hari ini hingga bulan Agustus 2026 membuka “pintu jeda”. Lewat opening ceremony pameran lukisan dan fotografi bertema “Merajut Realitas dan Merajut Budaya”.
Puluhan anggota Wartawan Media center dalam kesempatan itu mengajak publik berhenti sejenak. Menatap foto dan lukisan dan tentunya
Ini bukan pameran foto dan lukisan biasa, ini Ekpresi wartawan dan medianya, Ini juga bisa dibilang perlawanan terhadap AI dan berita hoax yang kini semakin meraja lela.
Muhammad Syafiudin, Ketua Media Centre, Muhammad Syafiudin saat berdiri di podium sederhana dalam sambutannya. Di hadapan pejabat, wartawan, seniman yang hadir dan para pengunjung keluarga yang tengah jalan-jalan di Sunrase Mall menyatakan bahwa tujuan pameran kali ini selain untuk mendekatkan jurnalis dengan masyarakat dan pejabat juga untuk mendekatkan karya jurnalistik ditengah gempuran AI dan berita-berita hoax.
“Dengan pameran ini pihaknya ingin mendekatkan jurnalis dengan masyarakat. Dengan adanya pameran ini kami ingin mendekatkan karya jurnalistik yang benar di tengah masyarakat di tengah banjirnya informasi di media sosial,” ujar Jurnalis Trans TV ini.
Syafiq juga melempar kalimat yang membuat ruangan hening sesaat.
“Apalagi saat ini banyak kabar bohong melalui AI. Media bisa menjadi filter dari semua itu.”
Kalimat itu tepat sasaran. Di 2026, satu gambar palsu bisa dibuat dalam hitungan detik. Satu narasi hoaks bisa menjangkau 10 ribu orang sebelum berita benar sempat mengetik judul.
Syafiudin mengingatkan, yang membedakan karya jurnalistik dengan konten AI bukan teknologinya. Tapi prosesnya.
“Foto yang diambil dengan keringat, lukisan yang lahir dari observasi lapangan, tidak bisa digantikan algoritma,” tegasnya.
Ia lalu mengucapkan terima kasih. “Kami mengucapkan terima kasih kepada pejabat dan masyarakat yang hadir. Peran dari pejabat memberikan legitimasi bahwa media centre serius menyiapkan pameran ini yang sudah kami siapkan 2 bulan yang lalu,” ungkapnya.
Dua bulan. Waktu yang dipakai panitia untuk kurasi, menghubungi puluhan kontributor, sampai berdebat memilih foto mana yang layak naik ke dinding. Bukan hasil generate. Bukan hasil repost. Tapi karya yang punya alamat, punya nama, punya konteks.
*Di Balik Bingkai: Ada Cerita dan Ada Aksi*
Menelusuri lorong pameran rasanya seperti membaca koran, tapi versi visual.
Ada foto seorang petani di Pacet. Embun masih menempel di ujung daun tembakau. Wajahnya keriput, tapi matanya tajam. Di sebelahnya ada lukisan pasar Tanjung, ramai, sumpek, tapi hidup.
Ada pula dokumentasi demo damai mahasiswa. Spanduk, teriakan, dan seorang ibu yang menyodorkan air mineral. Detik itu dibekukan. Tidak bisa diulang oleh AI.
Yang membuat pameran ini berbeda: karya-karya ini tidak hanya pajangan.
“Selain diperjualbelikan, lukisan dan foto jurnalistik ini juga mengandung aksi sosial dimana sebagian hasilnya nanti diberikan kepada yang berhak,” jelas Syafiudin.
Artinya sederhana. Jika Anda membeli satu karya, Anda ikut membantu. Uangnya akan disalurkan. Bukan untuk panitia. Bukan untuk mal. Tapi untuk mereka yang selama ini jadi objek foto, tapi jarang jadi subjek bantuan.
Soal teknis penjualan, panitia masih menggodok.
“Rencana lelang memang terdengar kemarin saat rapat panitia. Namun nanti kami update lagi apakah ada lelang atau tidak pameran yang bakal berlangsung hingga 31 Juli 2026 ini.”
Waktu masih panjang. Dari 8 Juli sampai 31 Juli 2026, siapa saja bisa datang ke Sunrise Mall Mojokerto. Gratis. Tanpa tiket. Cukup bawa mata dan hati yang mau melihat.
*Merajut Kembali Kepercayaan yang Robek*
Tema “Merajut Realitas dan Merajut Budaya” dipilih bukan tanpa sebab.
“Merajut realitas” karena jurnalis dan pelukis di Mojokerto menolak menyerah pada kemudahan. Mereka tetap turun ke lapangan, wawancara, menunggu, basah kehujanan, lalu memindahkan itu ke dalam karya.
“Merajut budaya” karena Mojokerto perlu diingatkan lagi tentang dirinya sendiri. Bukan hanya soal candi dan sejarah. Tapi juga soal tukang becak, buruh pabrik, anak sekolah yang nongkrong di warung kopi, dan senja di atas Sungai Brantas.
Di salah satu sudut, terlihat seorang bapak paruh baya berdiri lama di depan foto. Foto itu menampilkan tumpukan koran bekas di lapak. Ia mengusap kacamatanya.
“Dulu saya juga jualan koran keliling,” gumamnya pelan.
Itu bukti pameran bekerja. Ia tidak hanya menampilkan gambar. Ia memanggil ingatan.
*Perlawanan Paling Sunyi*
Di era ketika semua orang bisa jadi “jurnalis” lewat ponsel, dan semua gambar bisa dibuat lewat prompt, apa yang membuat karya manusia masih relevan?
Jawabannya ada di pameran ini: kejujuran proses.
AI bisa membuat gambar pemulung yang sempurna. Tapi AI tidak pernah duduk semalaman di emperan untuk mengobrol dengan pemulung itu. AI tidak pernah merasakan malu saat bertanya, dan haru saat dijawab.
Itu yang coba dijaga Media Centre Mojokerto.
“Realitas tidak bisa di-screenshot. Budaya tidak bisa di-generate. Keduanya harus dirajut, satu benang demi satu benang,” tulis panitia di buku tamu pameran.
Mungkin Anda tidak akan mengubah dunia setelah melihat pameran ini. Tapi setidaknya Anda akan pulang dengan satu pertanyaan: kapan terakhir kali saya benar-benar melihat kota saya sendiri?
Silakan datang. Sebelum 31 Juli 2026. Sebelum semua cerita ini kembali tenggelam oleh notifikasi.
(Tik)












