MOJOKERTO, mojokertopos.com — Insan pers di Mojokerto diliputi duka. Hingga saat ini 5 jurnalis dan 3 kru kapal yang bertugas meliput di wilayah Anak Gunung Krakatau belum diketahui keberadaannya.
Merespons kondisi tersebut, komunitas media di Mojokerto menggelar doa bersama. Aksi solidaritas itu diisi dengan penyalaan lilin dan penaburan bunga sebagai simbol harapan agar seluruh korban segera ditemukan dalam keadaan selamat.
*Solidaritas Wartawan Mojokerto*
Ketua Media Centre Mojokerto Muhammad Syafiudin mengatakan, kegiatan tersebut murni inisiatif para jurnalis di daerah.
“Ini murni kegiatan teman-teman wartawan di Mojokerto. Sampai hari ini, lima rekan kita sesama jurnalis masih belum ditemukan. Mereka hilang kontak saat melakukan peliputan di Anak Gunung Krakatau,” ujar Syafiudin di Alun-alun Wiraraja Kota Mojokerto.
*Duka dan Harapan*
Menurutnya, musibah ini menjadi perhatian seluruh insan pers. Para jurnalis berangkat untuk menjalankan tugas demi kepentingan publik, yaitu mengabarkan kondisi terkini Anak Gunung Krakatau.
“Ini keprihatinan kita bersama. Ada rekan kita yang karena kepentingan publik ingin memberitakan bagaimana kondisi terakhir di Anak Gunung Krakatau, ternyata justru terkena musibah,” ujarnya.
Syafiudin bersama rekan-rekan media memanjatkan doa agar 5 jurnalis dan 3 kru kapal segera ditemukan. Ia berharap mereka hanya kehilangan sinyal dan saat ini berada dalam keadaan selamat di salah satu pulau sekitar lokasi.
“Kita berdoa semoga yang terbaik bagi lima rekan kita dan juga tiga kru kapal yang sampai hari ini masih belum ketemu. Semoga mereka ditemukan dan sudah selamat di salah satu pulau atau lokasi di sekitar sana,” harapnya.
*Keselamatan Jadi Prioritas*
Syafiudin menegaskan, peristiwa ini harus menjadi pelajaran penting bagi seluruh wartawan. Tugas jurnalistik memang untuk menyebarkan informasi, tetapi keselamatan tidak boleh dikorbankan.
“Tidak ada berita seharga nyawa. Memang ada informasi yang baik dan penting untuk diketahui publik. Tapi kita juga harus menghitung bagaimana upaya kita ke sana, bagaimana kita memberitakan itu. Yang paling utama adalah keselamatan kita,” tegasnya.
“Karena jika kita selamat maka kita akan bisa mengabarkan. Tapi jika kita tidak selamat maka yang dikabarkan adalah keadaan kita,” tambahnya.
*Lilin dan Bunga, Simbol Harapan*
Dalam kegiatan itu, para jurnalis juga menyalakan lilin dan menabur bunga. Bagi Syafiudin, itu bukan sekadar simbol, melainkan bentuk harapan.
“Ini sebagai harapan. Masih ada nyala, masih ada cahaya. Mungkin hari ini masih tertutup kabut, tertutup debu dari Anak Gunung Krakatau. Tapi nyala ini merupakan bentuk harapan kita bersama agar teman-teman kita yang masih hilang kontak akan ditemukan dalam kondisi selamat,” pungkasnya. (Tik)













