MOJOKERTO, mojokertopos.com – Sabtu sore jalan Majapahit berubah fungsi. Ia bukan lagi sekadar jalur kendaraan tapi ribuan warga sudah berjejer di bahu jalan. Payung, kamera ponsel, dan anak-anak yang digendong orang tuanya memenuhi trotoar. Semua menunggu satu hal: Kirab Budaya Mojo Bangkit.
Kirab ini menjadi bagian dari perayaan Hari Jadi ke-108 Kota Mojokerto, 27 Juni 2026. Dan tahun ini skalanya berbeda. Sebanyak 1.080 peserta turun langsung ke jalan. Jumlah itu dipilih sengaja, selaras dengan usia kota yang baru menginjak 108 tahun.
Barisan dimulai dari Alun-alun Wiraraja. Dari titik nol kota, para peserta bergerak perlahan. Mereka melintasi Jalan Majapahit, berbelok ke Jalan Bhayangkara, dan menutup kirab di halaman Balai Kota Mojokerto. Sepanjang hampir 2 kilometer, suasana tak pernah sepi. Sorak warga, denting gamelan, dan suara narator mengiringi langkah kaki kirab.
Yang ditampilkan bukan sekadar kostum. Lewat atraksi seni, budaya, dan teatrikal, para peserta “menghidupkan” kembali peradaban Majapahit. Ada prajurit berkuda, penari, abdi dalem, hingga figur raja dalam balutan busana khas kerajaan.
Tema yang diusung, “Banjaran Majapahit”, menjadi benang merahnya. Kirab menuturkan tiga babak penting sejarah kerajaan itu. Dimulai dari era Dyah Wijaya, sang pendiri. Berlanjut ke masa Tribuana Tunggadewi, ratu yang mengokohkan kekuasaan. Dan memuncak pada zaman Prabu Hayam Wuruk, saat Majapahit berada di titik kejayaannya.
“Mojo Bangkit secara filosofis mengandung makna kebangkitan Kota Mojokerto di berbagai aspek kehidupan, sejalan dengan semangat ‘Spirit of Majapahit’ yang terus kita gelorakan,” jelas Wali Kota Mojokerto Ning Ita
Makna itu terasa saat kirab melintas. Warga tua merekam dengan ponsel. Anak-anak melambaikan tangan ke barisan prajurit. Pedagang kaki lima di sekitar rute ikut ramai. Kirab menjadi ruang temu antara sejarah dan keseharian kota.
Bagi Pemerintah Kota Mojokerto, acara ini lebih dari seremoni. Kirab dipakai untuk menarik benang merah antara Majapahit dan identitas kota hari ini. Dari kejayaan masa lalu, ditarik semangat untuk kebangkitan di bidang ekonomi, budaya, hingga pariwisata.
“Saya punya harapan besar kegiatan Kirab Budaya Mojo Bangkit menjadi ikon seni budaya tahunan Kota Mojokerto yang bisa melibatkan seluruh elemen masyarakat secara langsung, ” tutur Ning Ita.
Saat rombongan terakhir masuk halaman Balai Kota, tepuk tangan pecah paling meriah. 1.080 peserta berhenti, membungkuk, dan melambaikan tangan. Kirab selesai.
Tapi bagi ribuan warga yang berdiri di pinggir jalan sejak sore, Majapahit sore itu tidak lagi sekadar nama di buku sejarah. Ia hadir, berjalan, dan disaksikan langsung di depan mata.(Tik)













